Jumat, 05 April 2013

Badai di AS, Mengapa Bernama Sandy?




KOMPAS.com — Badai yang melanda wilayah Florida, Mississipi, dan Alabama, Amerika Serikat, pada 2005 dinamai badai Katrina, sementara badai yang menghantam wilayah pantai timur AS, seperti New York, dinamai Sandy. Nama badai selalu bagus, enak didengar, dan mudah diingat.

Bagaimana badai-badai tersebut dinamai? Adakah aturannya? Atau asal saja?

Penamaan badai punya sejarah panjang. Ivan R Tannehill, letnan di militer AS yang kemudian menjadi ilmuwan cuaca dalam bukunya Hurricane, mengungkapkan bahwa penamaan badai berawal dari tradisi masyarakat di sekitar Karibia.

Pada awalnya, badai dinamai berdasarkan nama santa dalam agama Katolik. Contohnya, badai yang melanda Puerto Rico pada 26 Juli 1825 dinamai badai Santa Ana, sementara badai yang melanda wilayah yang sama pada 1876 dinamai badai San Felipe.

Dalam penamaan tersebut, satu badai dengan badai yang lain bisa memiliki nama yang sama. Badai yang melanda Puerto Rico pada 1876 dinamai San Felipe I, sementara yang melanda wilayah sama pada 1928 dinamai San Felipe II.

Selanjutnya, sistem penamaan berubah. Setiap wilayah pembentukan badai memiliki sistem penamaan berbeda.

Di AS, penamaan pernah dilakukan berdasarkan koordinat tempat badai terbentuk. Namun, sistem itu akhirnya juga diubah sebab sulit diingat dan sulit dikomunikasikan. Ada banyak potensi kesalahan saat menyebut sebuah badai.

Pada tahun 1953, penamaan badai di Pasifik mulai didasarkan pada nama-nama perempuan. Sistem ini kemudian diadopsi oleh National Hurricane Center (NHC) di AS untuk memberi nama badai yang terbentuk di wilayah Atlantik. 

Nama yang diambil untuk badai diurutkan sesuai alfabet setiap tahunnya, kecuali yang berawalan Q, U, X, Y dan Z. Sejumlah 21 nama disiapkan setiap tahun. Bila ada lebih dari 21 badai, penamaan selanjutnya didasarkan pada aksara Yunani, Alpha, Beta, dan seterusnya.

Sejumlah nama badai untuk wilayah Atlantik disusun NHC untuk jangka waktu 6 tahun. Jadi, dalam waktu 7 tahun, akan ada nama badai yang berulang. Nama badai takkan diulang jika badai mengakibatkan dampak bencana sangat buruk. Misalnya, nama badai Katrina takkan diulang.

Lalu, mengapa badai kali ini dinamai Sandy?

Untuk tahun 2012, sejumlah nama telah dipakai untuk badai sebelumnya, seperti Alberto, Beryl, dan Chris. Badai Sandy merupakan badai ke-18 yang terjadi tahun 2012. Nama Sandy yang diambil sesuai dengan yang telah disusun. 

Hurikan seperti Sandy pada dasarnya merupakan fenomena siklon tropis. Fenomena ini terjadi akibat adanya faktor suhu yang hangat di permukaan laut, kelembaban udara, serta angin akibat rotasi Bumi.

Siklon tropis memiliki istilah sendiri berdasarkan tempat terbentuknya serta kekuatannya. Di Samudera Hindia, siklon tropis disebut sebagai siklon tropis saja. Hurikan merujuk pada siklon tropis yang terbentuk di Atlantik, sementara Taifun di Samudera Pasifik Barat Daya.

Bukan hanya NHC yang berhak menamai siklon tropis. Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga punya hak menamai siklon tropis. TCWC BMKG bertugas menamai siklon tropis yang terbentuk di 0-10 derajat LS dan 90-125 derajat BT.

TCWC BMKG menyiapkan nama-nama bunga sebagai nama siklon, seperti Flamboyan, Anggrek, dan Cempaka. Daftar lain juga memuat nama buah untuk nama siklon, seperti Anggur, Belimbing, dan Duku. 

Siklon tropis pertama yang dinamai dengan daftar nama TCWC BMKG adalah siklon tropis Anggrek. Berdasarkan BOM Australia, siklon tropis itu terbentuk 28 Oktober 2010, mencapai siklon kategori 2 pada 1 November 2010 dan punah pada 4 November 2010.


Sumber :
NHC, BMKG, BOM Australia

Pembentukan Badai yang Mengancam Jantung Dunia




KOMPAS.com — Perhatian dunia, terutama Amerika Serikat, dalam beberapa hari terakhir terpusat pada ancaman badai hibrida yang disebut "Frankenstorm". Badai tersebut mengancam kota-kota paling padat di Amerika Serikat, termasuk kota yang bisa dikatakan jantung dunia, New York.

Bagaimana pembentukan badai tersebut? Kapan pembentukannya dimulai dan apa saja dampak yang sudah diakibatkan badai itu? Dampak apa pula yang mungkin akan dirasakan Amerika Serikat akibat badai tersebut?

Frankenstorm terutama berkaitan dengan perkembangan badai Sandy. Badai Sandy terbentuk di wilayah Karibia. Pembentukan badai itu tak lepas dari faktor-faktor yang menyebabkan pembentukan badai tropis, yakni suhu di dekat permukaan laut, kelembaban udara, dan pola angin.

Pembentukan badai tropis dimulai dari naiknya massa uap air membentuk awan akibat panas. Banyaknya uap air yang naik menciptakan wilayah bertekanan rendah. Akibatnya, uap air dari wilayah yang bertekanan lebih tinggi mengisi wilayah yang bertekanan rendah dan ikut menguap.

Pada gilirannya, sebuah sistem badai yang terdiri atas awan dan angin yang terus mengembang dengan didayai panas di permukaan air laut akan terbentuk. Sistem itu akan berputar semakin cepat membentuk badai tropis dengan kecepatan 63-117 km per jam.

Badai Sandy, seperti diberitakan Telegraph, Senin (29/10/2012), terbentuk di wilayah Karibia pada Senin (22/10/2012) lalu. Badai menjadi semakin besar. Livescience, Senin, memberitakan bahwa area yang mungkin terdampak badai merentang hingga 280 km dari pusat sistem badai.

Pada Kamis (25/10/2012), badai Sandy menghantam wilayah Kuba dengan kecepatan angin 185 km per jam. Di Kuba dilaporkan bahwa 26 orang tewas akibat badai. Beberapa jam setelah dari Kuba, badai Sandy bergerak ke Bahama dengan kecepatan yang sudah berkurang menjadi 150 km per jam.

Badai Sandy akan terus bergerak dan diperkirakan pada Selasa (30/10/2012) dini hari akan mencapai wilayah pantai timur Amerika Serikat. Badai mengancam beberapa wilayah dataran rendah, seperti New Jersey, New York, dan West Virginia. 

Badai Sandy akan menjelma menjadi Frankenstorm bila bergabung dengan badai musim dingin dari pantai barat Amerika menuju ke timur dan angin dingin dari Kanada. Bila gabungan tiga sistem itu terjadi, maka dampaknya akan luar biasa.

Beberapa dampak antara lain hujan deras dan angin kencang. Salju yang terbentuk bisa mencapai ketebalan 60 cm. Sementara itu, Reuters pada Jumat (26/10/2012) memperkirakan bahwa kerugian kerusakan akibat badai ini bisa mencapai 5 milliar dollar AS.

"Kami memperkirakan, badai ini akan berdampak pada 50 juta-60 juta orang," kata Louis Uccelini, Kepala Prediksi Lingkungan dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) seperti dikutip Times, Senin.

Badai hibrida sebelumnya juga pernah menghantam Amerika Serikat pada tahun 1991, disebut badai Grace. Meski demikian, Frankenstorm yang mungkin terjadi kali ini akan menjadi badai dengan dampak terbesar dalam 100 tahun terakhir.

Informasi terakhir seperti dilansir CBS News, Senin, badai Sandy menguat, dari kecepatan 75 km per jam menjadi 85 km per jam. Sejauh ini, upaya pengurangan risiko bencana telah dilakukan. Sekolah hingga bursa saham dinonaktifkan, demikian pula langkah evakuasi.


Sumber :
Time, CBS, Livescience

Mengenal Kategori Badai




KOMPAS.com - Badai Sandy telah menghantam pantai timur Amerika Serikat, Selasa (30/10/2012). Berita terbaru, selain mengakibatkan banjir di New York, badai ini juga telah menewaskan 13 orang. 

Satu hal yang membuat bingung adalah kekuatan badai ini. Dalam banyak pemberitaan, badai Sandy yang menghantam Amerika Serikat dikatakan masuk dalam kategori 1. Apa sebenarnya maksud kategori 1?

Seperti halnya gempa yang dinyatakan dengan magnitud atau skala Richter, badai juga memiliki satuan. Kekuatan badai dinilai dari kecepatan geraknya yang dinyatakan dalam km/jam atau mil/ jam. Badai dikategorikan berdasarkan Saffir-Simpson Hurricane Scale (SSHS).

SSHS dikembangkan oleh pakar teknik sipil Herbert Saffir dan meteorolog Bob Simpson yang saat itu menjabat direktur National Hurricane Center (NHC) di Amerika Serikat. Skala diperkenalkan kepada publik pada tahun 2973 dan mulai banyak digunakan tahun berikutnya.

Skala badai mulanya dikembangkan Saffir pada tahun 1969 saat ia menyadari sulitnya menyatakan besarnya dampak badai. Saffir kemudian menggolongkan badai dalam lima kategori berdasarkan kecepatan. Simpson kemudian menambahkan faktor banjir dan gelombang badai dalam klasifikasi.

Pada tahun 2009, sedikit perubahan dilakukan pada SSHS. Skala tidak memperhitungkan faktor banjir, lokasi dan curah hujan, hanya memperhitungkan kecepatan angin. Skala ini kemudian disebut Saffir Simpson Hurricane Wind Scale (SSHWS).

Infrormasi NHC, skala SSHWS mulai efektif 15 Mei 2010. Namun, pada tahun 2012, sedikit perubahan kembali dilakukan. Rentang dalam kategori 4 diperluas 1 mil per jam ke atas dan bawah.

Dengan klasifikasi badai berdasarkan kecepatannya, bisa diperkirakan dampak hantaman badai yang terjadi. Lima kategori badai beserta perkiraan dampaknya sesuai dideskripsikan di situs National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) adalah sebagai berikut :

Kategori 1.
Kecepatan 119 - 153 km/jam. Rumah dengan konstruksi baik dapat mengalami kerusakan pada atap. Cabang pohon besar bisa patah. Kerusakan jaringan listrik bisa terjadi.

Kategori 2
Kecepatan 154 - 177 km/jam. Rumah dengan konstruksi baik bisa mengalami kerusakan di atap dan bangunan. Pohon-pohon yang akarnya dangkal bisa tercerabut dan tumbang. Listrik bisa padam dalam hitungan hari ke


Kategori 3
Kecepatan 178 - 208 km/jam. Rumah dengan konstruksi baik bisa mengalami kerusakan atap dan bangunan. Banyak pohon akan tumbang. Listrik dan air sulit didapatkan dalam hitungan hari ke minggu.

Kategori 4
Kecepatan 209 - 251 km/jam. Rumah dengan konstruksi baik bisa mengalami kerusakan parah pada atap dan bangunan. Pohon dan tiang listrik berpotensi tumbang. Pohon mungkin bisa mengisolasi daerah tertentu. Listrik bisa padam dalam hitungan minggu hingga bulan. Banyak daerah tak bisa dihuni dalam beberapa minggu atau bulan.

Kategori 5
Kecepatan lebih dari 252 km/jam. Banyak rumah akan mengalami kerusakan parah dan mungkin rubuh. Banyak wilayah akan terisolasi akibat pohon yang tumbang. Listrik dan air tak dapat didapatkan dalam hitungan minggu hingga bulan. Banyak area tak bisa dihuni.

Badai Sandy saat menghantam Amerika Serikat memiliki kecepatan 75 km/jam. Badai ini bisa mengakibatkan dampak parah sebab bergabung dengan badai dan angin dingin lain yang juga melintasi Amerika Serikat.

Salah satu badai yang mencapai kategori 5 adalah Badai Katrina yang melanda Amerika Serikat pada 23 - 30 Agustus 2005. Kecepatan badai itu mencapai 280 km/jam. Badai tersebut dikatakan menjadi salah satu badai terburuk sepanjang sejarah. 

Di bawah badai (hurikan), terdapat pula yang disebut siklon tropis atau depresi tropis. Siklon tropis memiliki kecepatan 63 - 118 km/jam sementara depresi tropis punya kecepatan kurang dari 62 km/jam.


Sumber :
NHC, NOAA

Kembali ke Index Topik Pilihan Wajah Badai Sandy dari Luar Angkasa




KOMPAS.com - Badai Sandy, disebut juga Frankenstorm, menerjang Pantai Timur Amerika Serikat, Senin (29/10). Meski inti badai belum mendarat, Sandy sudah menyebabkan lumpuhnya kota New York dan New Jersey.

Badai ini pun sebenarnya "hanya" masuk kategori satu dengan kecepatan angin 85 mil per jam. Namun, kekuatan Sandy menjadi demikian besarnya karena bertemu dengan arus udara dingin dari kawasan Arktik.

Jalur badai Sandy diperkirakan mencapai 1.600 kilometer. Badai ini disebut sebagai siklon tropis Atlantik kedua terbesar sejak tahun 1988. Besarnya Sandy membuatnya mudah terlihat dari luar angkasa. Satelit cuaca GOES-13 dan satelit pemantau Bumi Suomi NPP, berhasil menangkap wajah Sandy dari atas bola dunia, Minggu (28/10).

Foto itu diambil oleh Jesse Allen dan Robert Simmon yang berada di NASA Earth Observatory. Pusat pemantauan inilah yang secara kontinyu mengirimkan pemandangan Bumi dari satelit yang mengorbit.

Imaji yang tertangkap menunjukkan Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, dengan Sandy -berbentuk awan berputar- menghantam Pantai Timur AS. Kumpulan awan membentang dari utara Floria hingga ke Maine. Sulur tipis awan juga menjangkau ke arah timur melintasi Samudra Atlantik.

Satelit Suomi NPP juga menangkap foto Sandy saat malam hari. Menurut Michael Carlowicz dari Goddard Space Flight Center NASA, hal ini bisa dilakukan karena Suomi NPP menggunakan instrumen khusus yang bisa mendeteksi objek redup seperti aurora atau pun refleksi cahaya bulan.

Sandy saat malam hari menunjukkan ia sedang berada di timur Florida dan Georgia. Lampu kota yang ada di dua wilayah disebut juga bisa terlihat.

"Besarnya ukuran badai ini akan mengukir petak besar cuaca buruk," kata Rick Knabb, Direktur dari National Hurricane Center, AS. Badai ini diperkirakan akan berdampak pada kehidupan 50-60 juta warga Negeri Paman Sam.


Sumber :
National Geographic Indonesia

Manusia Jadi Lebih Jangkung di Luar Angkasa




CALIFORNIA, KOMPAS.com — Aneh tapi nyata. Manusia ternyata menjadi lebih jangkung ketika berada di antariksa. Paling tidak, inilah yang terjadi pada astronot yang kini sedang menjalankan misi di International Space Station (ISS).

Tinggi badan para astronot bisa bertambah hingga 5 cm. Penyebabnya adalah pemanjangan tulang belakang akibat pengaruh gravitasi. Pertambahan tinggi ini tak selamanya. Saat kembali ke Bumi, tinggi badan astronot akan kembali seperti semula.

Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) kini memiliki perangkat ultrasonik untuk melihat pengaruh mikrogravitasi pada tulang belakang. Perangkat ini memungkinkan ilmuwan meneliti lebih detail mekanisme bagaimana pertambahan tinggi terjadi.

Mulai bulan ini, perangkat ultrasonik itu akan dipakai. Ilmuwan akan mengevaluasi astronot setiap periode 30, 90, dan 150 hari setelah berada di antariksa. Astronot sendiri biasanya menjalani satu misi ke ISS selama 6 bulan.

Perangkat ultrasonik juga akan dipakai untuk melakukan studi jangka panjang dampak lingkungan mikrogravitasi pada dinamika tubuh astronot yang bertugas. 

"Ultrasonik memungkinkan kita mengevaluasi fisiologi dalam gerak, seperti gerak otot, darah, dan fungsi lain dalam tubuh," kata Scott Dulchavsk, salah satu ilmuwan NASA, seperti dikutip Space, Senin (7/1/2013).

 
Sumber :
SPACE.COM

Sebentar Lagi, Astronot Bisa Cetak Makanan di Luar Angkasa




NEW YORK, KOMPAS.com – Selama ini, para astronot di International Space Station bertahan dengan makanan kemasan yang variasi rasa dan bentuknya membosankan. Tapi, kebosanan itu bakal segera berlalu dengan adanya teknologi printer 3D.

Jeffrey Lipton, peneliti dari Cornell University, Amerika serikat, membuat printer 3D khusus yang digunakan untuk mencetak makanan. Printer itu diberi nama Fab@Home 3D Food Printer.

Mesin ini didesain agar mampu mencetak makanan dengan berbagai rasa dan tekstur, menyerupai makanan aslinya. Bahan dasar yang digunakan adalah suspensi hidrokoloid yang bisa dimakan dan penambah rasa. 

Uniknya, printer bisa menyusun lapisan rasa makanan. Printer bisa meniru cara mulut merasakan beragam makanan.

Michelle Terfansky, astrnot dan peneliti dari University of Southern California mengatakan bahwa printer 3D bisa membuat makanan para astronot lebi menggairahkan. Saat ini, makanan mereka masih jauh dari ideal.

Ia menambahkan, printer 3D akan mampu mengurangi penggunaan ruang dan jumlah limbah yang dihasilkan dengan semakin sedikitnya wadah kosong yang harus dibersihkan.

Saat ini, beberapa kendala masih perlu dipecahkan. Lipton mengatakan, saat akan menciptakan makanan seperti keju mozarella atau jamur, rasanya memang mirip tetapi tetap terasa berbeda, belum seperti yang diharapkan. Kondisi itu disebut "the uncanny valley food".

Ke depan, tim peneliti berencana untuk menyempurnakan rasa dari makanan tiruan yang dihasilkan. Terfansky mengatakan, setelah soal rasa dipecahkan, barulah estetika digarap.

Diberitakan Discovery, Rabu (20/2/2013), diperkirakan butuh waktu 5 – 10 tahun bagi peneliti untuk menciptakan sebuah mesin cetak makanan 3D yang menghasilkan makanan tiruan yang sempurna. Kesulitanya juga banyaknya makanan yang kompleks. Sayur dan buah tentunya sulit ditiru. 


Sumber :
DISCOVERY

Benarkah Teriakan Tak Bisa Terdengar di Antariksa?



SURREY, KOMPAS.com — "Di luar angkasa, tak ada satu pun yang mendengar teriakanmu". Slogan itu cukup populer pada tahun 1979 berkat film Alien, sebuah film fiksi ilmiah yang menegangkan, diperankan oleh Sigourney Weaver. Slogan itu menginspirasi tim peneliti dari University of Surrey untuk membuktikan kebenaran dari slogan tersebut.

Secara teoretis, slogan itu ada benarnya. Luar angkasa hampa udara. Di sana tidak ada molekul sehingga suara, yang berupa getaran, tidak akan bisa bergerak. Namun, bagaimana hasilnya secara nyata? Inilah yang akan dibuktikan oleh para peneliti ini.

Teriakan-teriakan yang akan diujikan di luar angkasa telah dikumpulkan dalam sebuah aplikasi bernama The Scream in Space App yang telah dipasang di telepon pintar (smartphone) yang diluncurkan ke luar angkasa. Aplikasi ini dikembangkan oleh peneliti dari Cambridge University Space Flight.

Telepon pintar yang diluncurkan ke luar angkasa itu pada beberapa titik akan memutar video yang berisi teriakan-teriakan yang telah dikumpulkan. Setelah diputar, tim peneliti dari University of Surrey akan memantau apakah getaran suara dari smartphone tersebut terdeteksi oleh alat speaker yang dipasangkan di satelit mini tersebut.

Misi ini dinamai Smartphone Sat. Misi pada dasarnya adalah peluncuran satelit mini bernama Strand-1, yang berukuran 10 x 30 cm dan berat 4,3 kg. Satelit dibuat oleh sekelompok peneliti dari University of Surrey’s Space Centre (SSC) dan Surrey Satellite Technology (SSTL). 

Satelit mini ini telah diluncurkan di India beberapa waktu lalu. Di dalam satelit terdapat sebuah telepon pintar, Galaxy Nexus, yang dilengkapi berbagai aplikasi khusus dan dipersiapkan menjadi pusat pengendali satelit tersebut pada fase kedua dari misi ini. 

Tujuan peluncuran Strand-1 sebenarnya tidak semata untuk menguji terdengar atau tidaknya suara teriakan di luar angkasa. Satu tujuan lain adalah menguji daya tahan produk komersial standar yang diciptakan di Bumi ketika berada di luar angkasa. 

Misi juga bertujuan menguji dua inovasi dalam peluncuran ke luar angkasa. Kedua inovasi antara lain sistem injeksi campuran air dan alkohol untuk menciptakan thrust (gaya mekanik yang menggerakkan pesawat terbang ke udara). Inovasi itu dinamakan "Warp Drive" (Water Alcohol Resisto-jet Propulsion De-orbit Re-entry Velocity Experiment). 

Inovasi lain adalah teknologi pulsed plasma thrusters yang menggunakan energi listrik untuk memanaskan dan mengevaporasi materi, kemudian menciptakan gas bermuatan yang akan berakselerasi pada satu arah di medan magnet untuk mendorong satelit ke arah sebaliknya.

"Misi ini adalah pencapaian yang luar biasa dan merupakan penghargaan besar bagi semua insinyur yang terlibat," ujar Sir Martin Sweeting, Direktur SSC dan Kepala Eksekutif SSTL, yang dikutip BBC, kemarin (25/2/2013).

Perkembangan terbaru mengenai misi ini bisa diikuti melalui Twitter (@SurreyNanosats), dan foto-foto yang diambil oleh satelit tersebut dapat dilihat di akun Facebook (http://www.facebook.com/nanosats) yang dibuat khusus untuk misi ini.


Sumber :
BBC