Jumat, 05 April 2013

Satelit Rusia Gagal Lakukan Perjalanan ke Mars


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Satelit ruang angkasa Rusia, Phobos-Grunt, gagal mengambil lintasan yang telah direncanakan untuk menuju ke Mars dan terjebak di orbit bumi, dan hanya ada waktu tiga hari untuk mencoba memperbaiki, menurut keterangan dari badan antariksa Rusia.

"Kita memiliki waktu tiga hari dimana batere masih memiliki daya," kata Kepala Astronot, Vladimir Popovkin.

Dia juga mengatakan bahwa hal itu bukan merupakan kegagalan.

"Ini keadaan yang tidak wajar, namun situasi masih terkendali," tambahnya.

Satelit Phobos-Grunt meluncur sesaat setelah lewat tengah malam waktu Moskow dari lokasi peluncuran milik Rusia, Baikonur cosmodrome di Kazakhstan, yang merupakan misi pertama sejak satelit Mars-96 tahun 1996 yang jatuh setelah peluncuran.

Ini merupakan misi yang ambisius untuk bisa menempatkan satelit itu di sekitar orbit Mars, mendaratkan satelit di permukaan bulan terbesar, Phobos, mengambil tanah dan membawa sampel yang pertama dari satelit Mars ke bumi.

Peluncuran itu berjalan sangat baik namun pesawat tersebut gagal untuk meninggalkan orbit bumi dalam perjalanannya menuju Mars, sebuah manuver yang direncanakan lima jam setelah peluncuran.

"Sepertinya sistem mesin tidak bekerja, yang berarti tidak bisa melakukan orientasi pada bintang," kata Popovkin.

Satelit itu masih berada di orbit bumi, dan para ahli memiliki waktu untuk melakukan pemrogaman ulang dan kembali melanjutkan perjalanan menuju planet merah itu.

Proyek Phobos-Grunt merupakan kepentingan yang besar bagi program Rusia, sebagaimana negara itu mencoba untuk muncul kembali sebagai adi daya ruang angkasa dengan misi yang terkait dengan planet dan mampu menyaingi NASA.

Popovkin mengatakan bahwa pengendali misi memperhatikan posisi satelit itu di orbit bumi, dan masih memiliki bahan bakar yang cukup di atas kapal.


Sumber: antara

Membelokkan Asteroid Bisa Menjadi Mimpi Buruk Geopolitik


An artist's illustration of asteroids, or near-Earth objects, that highlight the need for a complete Space Situational Awareness system.

Manusia memiliki pengetahuan teknis untuk membelokkan asteroid menjauh dari Bumi, tetapi apakah negara-negara bisa bergabung bersama untuk menjauhkan asteroid dalam waktu bersamaan? Itu masalah lain.

Sebuah asteroid akan menjadi masalah global yang menuntut respons kompleks dan terkoordinasi, kata para ahli. Semua negara tidak hanya perlu mengesampingkan perbedaan-perbedaan mereka, tetapi juga menempatkan warga dalam kondisi berisiko demi kebaikan planet ini.

"Ada banyak pertanyaan geopolitik yang benar-benar sangat sulit," kata Rusty Schweickart, pendiri dan ketua B612 Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk membantu melindungi Bumi dari serangan asteroid.

"Kita akan segera menemukan teknologinya," tambah Schweickart, pilot pesawat modul dari misi Apollo 9 NASA pada 1969. "Tapi untuk mendapatkan keputusan geopolitik yang dibuat dengan tepat waktu, dan tidak hanya penuh perdebatan hingga akhirnya terlambat untuk bertindak, maka akan menjadi tantangan yang nyata." 

Risiko benturan kosmik
Bumi mengelilingi matahari dengan risiko benturan kosmik, berbagi ruang dengan jutaan asteroid yang mengancam kita kapan saja.

Peristiwa 15 Februari menjadi peringatan yang gamblang bahwa bahaya ini selalu ada. Pada hari itu, batu ruang angkasa berukuran 17 meter meledak tanpa peringatan di atas kota Rusia, Chelyabinsk. Ledakan itu merusak ribuan bangunan dan melukai 1.200 orang. Beberapa jam kemudian, asteroid DA14 berukuran 40 meter hanya berada 27.700 kilometer dari Bumi, lebih dekat daripada cincin satelit geosinkron.

Meski para astronom telah melihat 95 persen dari 980 asteroid berukuran paling kecil 1 km yang dekat dengan Bumi, yang mungkin bisa mengakhiri kehidupan jika menghantam di planet kita, batuan ruang angkasa yang lebih kecil masih memiliki bahaya yang tetap tidak terdeteksi.

Para peneliti telah menemukan bahwa kurang dari 30 persen dari benda angkasa yang dekat Bumi berukuran 100 m, misalnya, bisa menghancurkan area seluas satu negara jika benda itu menghantam planet kita. Dan mereka telah memetakan orbit kurang dari 1 persen dari asteroid berukuran 39 meter yang diduga ada di luar sana, yang bisa memusnahkan sebuah kota.

Dari keseluruhannya, hanya 9.700 asteroid dekat Bumi yang telah diidentifikasi sampai saat ini, dari jumlahnya yang mencapai jutaan. Hal tersebut membuat banyak astronom dan politisi menyerukan agar ada lebih banyak sumber daya yang dikerahkan untuk mendeteksi asteroid, sehingga kita bisa mengetahui dengan lebih baik apa yang mengancam kita di masa depan.

Bagaimana cara menangkis asteroid
Para peneliti merasa tahu caranya menangkis asteroid yang menuju ke Bumi, jika ada waktu yang cukup.

Strateginya melibatkan pemasangan setidaknya dua misi ruang angkasa terkoordinasi, kata Schweickart. Yang pertama akan mengempaskan sebuah penabrak kinetik sehingga membuat asteroid hancur. Yang kedua adalah meluncurkan "traktor gravitasi" yang terbang bersama batu ruang angkasa tersebut, mendorongnya menjauh melalui tarikan gravitasi kecil tapi terus-menerus.

"Anda selalu membutuhkan traktor gravitasi di sana untuk memastikan setiap usaha pembelokan tidak membuat asteroid masuk ke ‘lubang’ gravitasi, karena kalau begitu, asteroid itu bakal kembali lagi suatu saat nanti," kata Schweickart kepada SPACE.com.

Pendekatan ini dapat mencegah lebih dari 98 persen kemungkinan tabrakan, menurut laporan tahun 2008 yang berjudul “Asteroid Threats: A Call for Global Response”. Laporan itu disatukan oleh International Panel on Asteroid Threat Mitigation dari Association of Space Explorers, yang diketuai Schweickart. 

Sebuah strategi yang berbeda, seperti ledakan nuklir, mungkin diperlukan untuk asteroid yang berukuran lebih dari 400 m, atau yang datang begitu cepat sehingga manusia tidak siap.

Hambatan politik
Pada 2005, NASA menghancurkan sebuah pesawat buatan ke Comet Tempel 1 untuk menyelidiki komposisi bentuk fisiknya. Dan beberapa pesawat ruang angkasa, seperti Dawn dari NASA dan Hayabusa dari Jepang, telah bertemu dengan asteroid di ruang angkasa.

Namun tantangan utama misi membelokkan asteroid terletak di sisi politis, bukan teknis, tutur Scheweickart. Dan mungkin hambatan terbesarnya adalah cara yang disepakati untuk membelokkan asteroid.

Setiap asteroid yang datang orbitnya telah dipetakan akan mengancam bumi dengan “koridor risiko” yang spesifik — garis situs potensi yang memanjang hingga 180 derajat di permukaan planet tapi hanya beberapa puluh kilometer lebarnya.

Sebuah aksi defleksi tidak akan mampu membuat perubahan besar untuk orbit asteroid yang berbahaya tersebut. Sebaliknya, itu hanya bisa menyeret titik dampak diproyeksikan melebar ke kiri atau ke kanan, dengan memperlambat jatuhnya atau mempercepat sedikit.

Tujuannya, tentu saja, adalah memindahkan titik jatuh ke luar planet. Namun menentukan bagaimana tepatnya untuk mencapai hal ini — untuk membelokkan ke kiri atau kanan, untuk mendorong asteroid atau menariknya — akan sulit, karena keputusan apa pun tentu akan menempatkan beberapa negara pada risiko yang lebih besar daripada yang lain, kata Schweickart.

"Jika Anda memulai sebuah defleksi dan tidak berjalan dengan benar, Anda sekarang telah menggeser titik itu dalam satu koridor risiko," kata Schweickart. "Dan sekarang orang berada dalam bahaya, meski mereka  tidak berada dalam keadaan bahaya sebelum Anda memulai operasi ini."

Dan hal itu hanya salah satu dari banyak isu geopolitik rumit dalam misi membelokkan asteroid.

"Siapa yang melakukannya? Siapa yang membiayainya? Siapa yang bertanggungjawab?" tutur Schweickart.


Sumber: Mike Wall | SPACE.com  

Kehidupan di Mars! Jika Bukan E.T, Siapa yang Peduli?


Ilmuwan NASA mengumumkan pada 12 Maret bahwa Planet Merah itu bisa mendukung kehidupan purbakala — meskipun belum ada bukti. Sebuah sampel batuan yang dibor oleh penjelajah Curiosity mengungkapkan kondisi yang bisa mendukung kehidupan mikroba purbakala di beberapa titik di masa lalu.

Kabar mengenai adanya potensi kehidupan menjadi berita utama, dan tidak ada keraguan bahwa penemuan mikroba nyata yang hidup di Mars juga akan menjadi berita utama. Namun, dampak penemuan kehidupan di dunia lain mungkin tidak menggemparkan dunia seperti yang orang-orang pikirkan, kata para ahli.

"Orang-orang tidak tertarik dengan mikroorganisme," kata Chris McKay, seorang astrobiologis di NASA Ames Research Center di Moffett Field, California.

Kehidupan di Mars?
Bagi para ilmuwan, kehidupan Mars akan menjadi isu besar, ujar McKay kepada LiveScience. Bahkan fakta yang akan mengubah paradigma adalah menemukan bahwa kehidupan di Mars awalnya independen.

Masuk akal bahwa Mars dan Bumi bertukar materi di masa-masa awal mereka, dan bahwa kehidupan yang ditemukan di Mars bisa muncul dari sumber yang sama seperti kehidupan di Bumi. Penemuan seperti itu akan menarik, ucap McKay, namun "tidak seheboh seperti penemuan bahwa ada kehidupan di Mars dan penemuan bahwa itu mencerminkan penciptaan yang kedua."

"Jika kami menemukan bukti di Mars tentang penciptaan yang kedua, hal itu mengubah segalanya," katanya. 

Evolusi kehidupan sebanyak dua kali dalam tata surya yang sama akan menunjukkan bahwa kehidupan adalah hal biasa di seluruh alam semesta, jelas McKay. Penemuan seperti itu akan menjadi penemuan besar bagi ahli biologi, yang tiba-tiba akan memiliki tipe yang sama sekali baru untuk mempelajari biologi.

Namun, McKay tidak bermimpi adanya pergeseran besar dalam filsafat di kalangan masyarakat dalam menanggapi penemuan tersebut. Penemuan mikroorganisme di planet lain belum tentu memacu kebutuhan untuk mengevaluasi kembali tempat manusia dalam alam semesta.

"Saya akan menempatkannya di tempat yang sama dengan penemuan partikel Higgs," ujar McKay, mengacu pada teori partikel yang menjelaskan bagaimana partikel lain mendapatkan massa mereka. "Seperti peristiwa itu. Penemuan tersebut akan diterbitkan di masyarakat dan orang-orang akan mengatakan, 'Oh, wow,’ namun sebagian besar akan hanya akan menjadi bahasan para ilmuwan."

Hidup vs Kehidupan
Memang, beberapa data menunjukkan bahwa, bahkan penemuan makhluk luar angkasa yang cerdas tidak akan mengguncang masyarakat manusia di luar kemampuan yang mereka bisa atasi. Satu survei yang melibatkan lebih dari 1300 individu religius, yang dirilis pada 2011 menemukan bahwa orang-orang beragama sangat yakin bahwa penemuan alien yang cerdas tidak akan menggoyahkan iman.

"Para teolog dan pemuka agama yang telah melihat hal itu, saya terkejut mereka sangat sedikit bicara, hampir seolah-olah itu tidak menarik," kata Ted Peters, seorang teolog di Pacific Lutheran Theological Seminary di Berkeley, California, yang memimpin penelitian itu.

Kehidupan mikroba Mars tampaknya tidak akan memberikan banyak dampak di bidang teologis, kata Peters kepada LiveScience. Kebanyakan tradisi religius berpegang teguh bahwa kehidupan adalah ciptaan Tuhan, namun tidak berkomitmen pada penjelasan yang tepat tentang bagaimana Tuhan menciptakannya. Asal-usul kehidupan bisa terjadi kimiawi sebanyak beberapa kali di seluruh sistem tata surya dan tidak akan bertentangan dengan pandangan dunia, ujar Peters.

Penemuan kehidupan yang cerdas di suatu tempat di alam semesta seharusnya signifikan secara teologis, kata Peters. Penemuan semacam itu bisa melontarkan pertanyaan dasar mengenai spiritual secara terbuka, dia mengatakan: Apakah alien spiritual? Apakah mereka memiliki moralitas, empati atau kasih?

Alien cerdas juga bisa memberikan jawaban mengenai evolusi keyakinan agama, tutur Peters. Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa agama adalah cara primitif untuk menjelaskan dunia, dan ilmu pengetahuan yang akan menggantikannya, katanya. Jika alien super cerdas adalah untuk merangkul ilmu pengetahun dan agama, itu mungkin akan membantah teori evolusi.

Menemukan kehidupan cerdas juga akan berharga secara ilmiah, di atas dan melampaui segala penemuan mikroba berkembang di Mars, kata McKay. Ada tiga langkah besar yang membawa Anda ke suatu spesies menyerupai manusia: Asal kehidupan, evolusi kehidupan yang rumit seperti tumbuhan dan hewan, dan, akhirnya, perkembangan kecerdasan.

"Kita tidak memiliki harapan bahwa, di Mars, kehidupan menerapkan dua langkah lainnya," melampaui kemungkinan asalnya, ujar McKay. "Berkomunikasi dengan makhluk luar angkasa yang cerdas, membawa kita ke ujung perbandingan itu, jadi kita bisa segera tahu bahwa ketiga langkah tersebut benar-benar terjadi."


Sumber: Stephanie Pappas, Penulis Senior LiveScience | LiveScience.com

Bulan Jupiter Mungkin Memiliki Duri Es

Europa, as viewed from NASA’s Galileo spacecraft. Visible are plains of bright ice, cracks that run to the horizon, and dark patches that likely contain both ice and dirt.


Bulan Jupiter, yang bernama Europa, mungkin diselubungi duri es, kata ilmuwan.

Para ahli astronomi sudah lama mengetahui bahwa Europa mengandung es. Kini, para ilmuwan sedang berusaha memahami seperti apa bentuk es di sana, dengan menjadikan beberapa tempat terdingin di Bumi sebagai perbandingan. Duri es yang terbentuk di Bumi bisa pula terbentuk di Europa, kata mereka.

“Duri es lumayan tersembunyi di Bumi,” kata Dan Hobley, pakar astronomi dari University of Virginia, kepada SPACE.com setelah mengemukakan temuannya di Lunar and Planetary Science Conference ke-44.

Duri es (yang juga diberi nama penitentes) setinggi 1-5 meter hanya tumbuh di beberapa bagian pegunungan Andes di Bumi, tetapi area itu bisa jadi gambaran paling mirip mengenai kondisi geologis Europa, kata Hobley.

Penitentes hanya bisa tumbuh dalam kondisi tertentu. Sudut sinar matahari harus menerpa es sedemikian rupa sehingga ujung duri tetap berdiri dan terkubur dalam tanah. 

Hobley mengatakan, kondisi lingkungan seperti itu terdapat di sepanjang garis khatulistiwa Europa. Meski satelit Jupiter ini telah diamati melalui radar dan spektroskopi, para ilmuwan belum mampu memahami secara pasti seperti apa permukaan bulan itu. 

Daerah khatulistiwa di Europa diketahui lebih hangat dari seharusnya, dan keberadaan penitentes dapat menjelaskan fenomena itu, kata Hobley. Karena sinar matahari terperangkap dan memantul di antara duri-duri es. 

"Kami belum yakin. Saat ini kami hanya punya tebakan kuat,” kata Hobley.

Sumber: Miriam Kramer | SPACE.com

Meteorit Hijau Mungkin Berasal dari Merkurius



This green meteorite that landed in Morocco in 2012 could be from Mercury. (Photo By Stefan Ralew/sr-meteorites.de)



Para ilmuwan mungkin saja telah menemukan meteorit pertama yang berasal dari planet Merkurius.

Tahun lalu, sebongkah batu hijau ditemukan di tanah Maroko dan menurut ahli meteorit Anthony Irving, kemungkinan batu itu berasal dari planet paling dekat ke Matahari itu.

Irving mengungkapkan temuannya pada “Lunar and Planetary Science Conference” ke-44 bulan ini. Studinya mengatakan, batuan luar angkasa yang diberi nama NWA 7325 berasal dari Merkurius, bukan asteroid atau Mars.

NWA 7325 adalah kumpulan 35 sampel meteorit yang ditemukan di Maroko tahun 2012. Bebatuan ini kuno — Irving dan timnya menakar umur bebatuan itu 4,56 miliar tahun.

“Batu ini mungkin sampel dari Merkurius, atau planet lain yang lebih kecil dari Merkurius namun mirip,” kata Irving dalam presentasinya. Tumbukan besar mungkin telah melesatkan NWA 7325 dari Merkurius ke Bumi, tambahnya.

Irvin sehari-hari mengajar ilmu kebumian dan antariksa di University of Washington dan telah meneliti meteorit selama bertahun-tahun. Meteorit NWA 7325 amat berbeda dengan meteorit lain yang ditemukan di Bumi sebelumnya, kata Irving kepada SPACE.com.

Meteorit itu mengandung besi dalam kadar rendah, layaknya permukaan planet Merkurius. Dari mana pun meteorit NWA 7325 berasal, planet asalnya sudah pasti mirip Merkurius.

Sumber: Miriam Kramer | SPACE.com

Pesan NASA saat Bumi Menghadapi Ancaman Hantaman Asteroid


The passage of asteroid 2012 DA14 through the Earth-moon system, is depicted in this handout image from NASA. On February 15, 2013, an asteroid, 150 feet (45 meters) in diameter will pass close, but safely, by Earth. The flyby creates a unique opportunity for researchers to observe and learn more about asteroids.  REUTERS/NASA/JPL-Caltech/Handout  (OUTER SPACE - Tags: SCIENCE TECHNOLOGY) THIS IMAGE WAS PROCESSED BY REUTERS TO ENHANCE QUALITY. AN UNPROCESSED VERSION WILL BE PROVIDED SEPARATELY FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS

CAPE CANAVERAL, Florida (Reuters) – Pimpinan NASA, Charles Bolden memiliki nasihat untuk mengatasi asteroid terbesar yang akan menghantam New York City, yaitu berdoa.

Itu berlaku untuk Amerika Serikat atau negara lainnya, yang menghadapi terjangan asteroid dan meteor yang mungkin saja akan menghantam Bumi, kata Bolden kepada badan legislatif dalam sidang House of Representatives Science Committee pada Selasa.

Sebuah asteroid yang jatuh pada 15 Februari di Chelyabinsk, Rusia, diperkirakan berdiameter sekitar 15,67 meter tersebut mengakibatkan gelombang kejut yang menghancurkan jendela dan gedung-gedung. Lebih dari 1500 orang mengalami cedera.

Beberapa saat kemudian di hari yang sama, sebuah asteroid lainnya yang ditemukan tahun lalu dan berukuran lebih besar melintasi Bumi dengan jarak 5.1816 meter dari Bumi, lebih dekat dibandingkan satelit jaringan televisi dan satelit cuaca yang mengelilingi Bumi.

“Kejadian tersebut memberikan bukti bahwa kita tinggal di sebuah sistem tata surya yang aktif dan berpotensi dilalui oleh benda-benda berbahaya di sekeliling kita dengan frekuensi yang mengejutkan,” kata ketua komite tersebut, Lamar Smith, anggota dari Partai Republik asal Texas. Rapat dengar pendapat itu digelar untuk mengetahui apa yang harus dilakukan dan berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk melindungi Bumi.

NASA menemukan dan melacak sekitar 95 persen objek besar yang terbang di sekitar Bumi, beberapa berdiameter 1 km.

“Sebuah asteroid sebesar itu, satu kilometer atau lebih, kemungkinan bisa mengakhiri peradaban,” kata John Holdren, penasihat sains untuk Gedung Putih yang hadir dalam rapat tersebut.

Namun hanya sekitar 10 persen dari jumlah yang diperkirakan, atau 10 ribu asteroid, yang berpotensi menjadi asteroid “penghancur kota”. Salah satu asteroid tersebut berdiameter 50,3 meter, tambah Holdren.

Rata-rata, objek berukuran sebesar itu diperkirakan akan menghantam Bumi setiap 1.000 tahun sekali.

“Dari informasi yang kami miliki, kami tidak mengetahui adanya asteroid yang akan mengancam populasi Amerika Serikat,” kata Bolden. “Tapi jika asteroid itu akan menghantam kita dalam tiga pekan, maka berdoalah.”

Sebagai tambahan dalam usaha pengawasan dan membangun kerja sama, NASA berusaha mengembangkan teknologi untuk mengalihkan sebuah objek yang mungkin akan menghantam Bumi.

“Peluang sebuah benda langit yang menghantam Bumi dan menyebabkan kehancuran serta korban jiwa yang besar sangat kecil, namun potensi dari kejadian itu sangat besar dan masuk akal untuk memperhitungkan risikonya secara serius,” kata Holdren.

Sekitar 66 juta tahun yang lalu, sebuah benda langit dengan diameter berukuran 9,65km menghantam lokasi yang kini merupakan semenanjung Yucatan di Meksiko, memicu kepunahan dinosaurus, serta sebagian kehidupan hewan dan tumbuhan di Bumi.

Asteroid yang meledak di Rusia pada bulan lalu adalah benda langit terbesar yang menghantam atmosfer bumi sejak kejadian Tunguska di 1908, saat sebuah asteroid atau komet meledak di Siberia, memusnahkan 80 juta pohon di wilayah seluas 2150km persegi. 

Penelitian: Alam Semesta Lebih Tua dari Perkiraan Sebelumnya



An image of the anisotropies of the Cosmic microwave background (CMB) as observed by Planck is seen in this handout released March 21, 2013 by the European Space Agency. Scientists unveiled on Thursday a map detailing what they called "the oldest light in the universe," a gleaming imprint on the sky just 380,000 years after the Big Bang. The map of relic radiation from the event which kickstarted the formation of the universe reveals features that challenge the current understanding of space, the European Space Agency (ESA) said of the image taken with its Planck space telescope.  REUTERS/ESA-Planck Collaboration/Handout  (FRANCE - Tags: SCIENCE TECHNOLOGY) ATTENTION EDITORS - FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. IT IS DISTRIBUTED, EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS.

The image, released on March 21, 2013 by European Space Agency,Cape Canaveral, Florida (Reuters) - Penelitian saksama radiasi yang tersisa dari penciptaan alam semesta menunjukkan bahwa Dentuman Besar terjadi sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, 100 juta tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya, demikian menurut para ilmuwan pada Kamis.

Temuan tersebut merupakan salah satu hasil pertama dari analisis data yang dikumpulkan oleh pesawat ruang angkasa Planck milik Badan Antariksa Eropa, yang memberikan tampilan paling detail untuk menentukan usia sisa-sisa radiasi gelombang mikro yang memenuhi alam semesta.

Radiasi peninggalan ini pertama kali terdeteksi pada 1964 dan kemudian ditemukan oleh dua pesawat ruang angkasa NASA - COBE, diluncurkan pada 1989, dan WMAP, yang diluncurkan dua tahun kemudian. Dengan sensitivitas yang lebih besar, Planck telah mencatat detail dari variasi temperatur kecil di balik gelombang mikro kosmik tersebut.

Fluktuasinya, yang hanya memiliki perbedaan sekitar 100-seperjuta derajat, mirip dengan daerah yang sedikit lebih padat, tempat yang kemudian melahirkan bintang-bintang dan galaksi yang mengisi alam semesta.

“Kita seolah-olah mengganti televisi biasa dengan televisi beresolusi tinggi. Detail baru dan penting tersebut semakin jelas,” kata Paul Hertz, direktur astrofisika NASA kepada reporter lewat telepon.

Secara keseluruhan, data baru tersebut sesuai dengan model yang ada tentang bagaimana alam semesta berevolusi, tetapi juga menimbulkan beberapa teka-teki baru.

“Variasi dari beberapa tempat di peta yang telah dibuat oleh Planck mengungkap hal baru tentang apa yang terjadi dalam 10 nano-nano-nano-nano detik setelah Dentuman Besar ketika alam mengembang 100 triliun, triliun kali lipat,” kata Charles Lawrence, ilmuwan proyek Planck dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.

“Kita bisa melihat efek halus dari gravitasi yang menarik segala sesuatu yang ada di alam semesta.”

Dibandingkan dengan pengukuran terbaik sebelumnya, alam semesta ini sedikit lebih tua dan, secara mengejutkan, mengembang sedikit lebih lambat dari standar yang diakui saat ini.

Data Planck juga menunjukkan bahwa materi biasa - materi yang membentuk bintang, galaksi, planet dan  segala sesuatu yang terlihat – hanya menempati 4,9 persen ruang di alam semesta.

Materi gelap, yang tidak berinteraksi dengan cahaya tetapi dapat dideteksi dari gaya tarik gravitasinya, mengisi 26,8 persen dari alam semesta, hampir seperlima lebih besar dari perkiraan sebelumnya.

Sisa dari alam semesta adalah energi gelap, sebuah energi misterius dan baru ditemukan yang menentang gravitasi dan bertanggung jawab untuk mempercepat tingkat ekspansi alam semesta. Hasil temuan dari Planck menunjukkan energi gelap membentuk 69 persen alam semesta, lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya.

Penelitian tersebut merupakan hasil pertama dari Planck yang telah mengorbit selama 15 bulan. Informasi tambahan, termasuk detail tentang bagaimana ledakan awal alam semesta terpolarisasi, diperkirakan akan dipublikasikan tahun depan.

Sumber:  Irene Klotz | Reuters